Sabtu, 17 November 2018

SOSIALISASI DAN PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN PRODI PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM

MAKALAH SOSIALISASI DAN PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN
PRODI PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM

Dosen Pembimbing : Resdati, M. Si







OLEH KELOMPOK 5 :
Ø Muhammad Mauladi



FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SULTAN SYARIF KASIM RIAU
2018
Ø   
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan Rahmat, Hidayah, dan Inayah-Nya sehingga kami dapat merampungkan penyusunan makalah SOSIOLOGI dengan judul "SOSIALISASI DAN PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN" tepat pada waktunya.
Penyusunan makalah semaksimal mungkin kami upayakan dan didukung bantuan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar dalam penyusunannya. Untuk itu tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam merampungkan makalah ini.
Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih terdapat kekurangan baik dari segi penyusunan bahasa dan aspek lainnya. Oleh karena itu, dengan lapang dada kami membuka selebar-lebarnya pintu bagi para pembaca yang ingin memberi saran maupun kritik demi memperbaiki makalah ini.
Akhirnya penyusun sangat mengharapkan semoga dari makalah sederhana ini dapat diambil manfaatnya dan besar keinginan kami dapat menginspirasi para pembaca untuk mengangkat permasalahan lain yang relevan pada makalah-makalah selanjutnya.


Pekanbaru, 15 September 2018



Kelompok 5 (HIMAKU)


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.................................................................................................................. i
KATA PENGANTAR .............................................................................................................. ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................................... 1
A.    LATAR BELAKANG................................................................................................... 1
B.     RUMUSAN MASALAH.............................................................................................. 1
C.    TUJUAN........................................................................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN........................................................................................................... 2
A.    SOSIALISASI............................................................................................................... 2
a.      Pengertian sosialisasi.............................................................................................. 2
b.      Tahap-tahap sosialisasi.......................................................................................... 3
c.       Proses, bentuk dan sifat sosialisasi........................................................................ 6
B.     PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN........................................................................... 8
a.      Pengertian pembentukan kepribadian................................................................. 8
b.      Susunan Kepribadian............................................................................................. 9
c.       Faktor-faktor pembentuk kepribadian.............................................................. 10
BAB III PENUTUP................................................................................................................. 13
A.    Kesimpulan.................................................................................................................. 13
B.     Kritik dan Saran......................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................... iv





BAB I
PENDAHULUAN


A.    LATAR BELAKANG
            Di dalam kehidupan masyarakat ada nilai dan norma sosial sebagai pedoman berprilaku masyarakat agar kehidupan social menjadi tertib. Perilaku yang tidak sejalan dengan nilai dan norma sosial disebabkan oleh unsure kesengajaan karna nilai-nilai dan norma sosial dianggap sebagai ikatan yang mengurangi kebebasan perilaku, juga unsur ketidaktahuannya karna tidak tersosialisasinya sperangkat nilai-nilai dan norma sosial yang ada. Hal itu semata-mata didorong oleh keinginan masyarakat agar kelangsungan hidupnya dapat bertahan, sebab tanpa ketertiban sosial, maka kehidupan sosial tidak akan bertahan lama.
            Adapun proses pembentukan nilai-nilai dan norma sosial secara garis besar dibedakan menjadi 2 macam yaitu: niali-nilai dan norma sosial terbentuk secara alamiah akibat interaksi sosial juga nilai-nilai dan norma sosial terbentuk melalui unsure kesengajaan, dalam arti terbentuknya nilai-nilai dan norma sosial memang merupakan kebutuhan pada saat tertentu akibat dari berbagai pelanggaran yang dilakukan oleh sebagian anggota masyarakat 

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa itu sosialisasi?
2.      Apa tahap-tahap dalam sosialisasi?
3.      Apa saja proses, bentuk dan sifat sosialisasi?
4.      Siapa saja agen dalam sosialisasi?
5.      Apa pengertian kepribadian?

C.    TUJUAN
1.      Untuk menjelaskan pengertian sosialisasi
2.      Untuk menjelaskan apa saja tahap-tahap dalam sosialisasi
3.      Untuk menjelaskan proses, bentuk dan sifat sosialisasi
4.      Untuk menjelaskan agen dalam sosialisasi
5.      Untuk menjelaskan pengertian kepribadian


BAB II
PEMBAHASAN

a.       Pengertian sosialisasi
Secara sederhana sosialisasi dapat diartikan sebagai sebuah proses seumur hidup yang berkenaan dengan bagaimana individu mempelajari cara-cara hidup serta norma dan nilai sosial yang terdapat dalam kelompoknya agar dapat berkembang menjadi pribadi yang dapat diterima oleh kelompoknya. Manfaat sosialisasi, masyarakat dapat memahami perilaku mana yang harusnya diperbolehkan, dan yang tidak diperbolehkan. Sosialisasi selalu dimulai dari lingkungan keluarga sebagai kesatuan unit terkecil, misalnya seseorang yang lahir pada awalnya tidak mengetahui siapa dirinya, walaupun didalam dirinya terdapat potensi untuk berkembang. Potensi ini adalah kemampuan (capability), bakat (talent) yang terpendam dalam dirinya yang belum dikembangkan atau diwujudkan. Seseoarng lahir sebagai makhluk sosial yang hidup ditengah pergaulan manusia dengan tata kelakuan yang menjadi pedoman kelakuan yang baik dan yang tidak baik.
Pokok pembahasan diatas memberikan deskripsi bahwa hanya melalui proses sosialisasi saja nilai-nilai dan norma sosial (yang menjadi pedoman tata kelakuan) dapat diwariskan dan diteruskan ke antargenerasi, terlepas apakah realitas sosial yang ada mengalami perubahan atau tidak. Melalui sosialisasi para generasi masyarakat dapat belajar tentang bagaimana mereka seharusnya bertingkah laku dalam kondisi sosial tertentu ketika berhubungan dengan orang lain.
Berikut ini adalah batasan sosialisasi yang diberikan oleh para pakar : 
o   Charlotte Buehler, mendefinisikan sosialisasi sebagi proses yang membantu individu-individu belajar dan menyesuaikan diri, bagaiman cara hidup dan berfikir kelompoknya agar ia dapat berperan dan berfungsi dalam kelompoknya.
o   Peter Berger, mendefinisikan sosialisasi sebagai proses dimana anak belajar menjadi seorang anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat. 
o   Bruce J. Cohen, mendefinisikan sosialisasi sebagai proses-proses manusia mempelajari tata cara kehidupan dalam masyarakat, untuk memperoleh kepribadian dan membangun kapasitas agar berfungsi dengan baik sebagai individu maupun sebagai anggota satu kelompok. 
o   Karel J. Veeger, mendefinisikan sosialisasi sebagai suatu proses belajar mengajar, melalui individu belajar menjadi anggota masyarakat, diman prosesnya tidak semata-mata mengerjakan pola-pola perilaku sosial kepada individu tetapi juga individu tersebut mengembangkan dirinya atau melakukan proses pendewasaan dirinya 
o   Robert M. Z. Lawang, sosialisasi merupakan proses mempelajari norma, nilai, peran, dan semua persyaratan lainnya yang diperlukan untuk memungkinkan partisipasi yang efektif dalam kehidupan sosial 
o   Soerjono Soekamto, soialisasi merupakan proses dimana anggota masyarakat yang baru mempelajari norma-norma dan nilai-nilai masyarakat diman ia menjadi anggota. 
o   M. Sitorus, sosialisasi merupakan proses diman seorang mempelajari pola-pola hidup dalam masyarakat sesuai dengan nilai-nilai, norma dan kebiasaan yang berlaku untuk berkembang sebagai anggota masyarakat dan sebagai individu (pribadi).

Penyesuaiaan diri terjadi secara berangsur-angsur, seiring dengan perluasan dan pertumbuhan pengetahuan serta penerimaan individu terhadap nilai dan norma yang terdapat dalam lingkungan masyarakat tempat ia berada. Perubahan lingkungan dapat menyebabkan terjadinya perubahan perilaku dan tindakan seseorang karena telah terjadi penerapan nilai-nilai dan norma-norma baru yang berbeda dari nilai dan norma yang ia miliki sebelumnya. Beraneka nilai dan norma itu diserap manusia melalui sosialisasi.
Sejumlah sosiolog menyebut sosialisasi sebagai teori mengenai peran (role theory), karena dalam proses sosialisasi diajarkan peran-peran yang harus dijalankan oleh individu. George Herbert Mead berpendapat bahwa sosialisasi yang dilalui seseorang dapat dibedakan melalui tahap-tahap sebagai berikut :
Tahap ini dialami sejak manusia dilahirkan, saat seorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya, termasuk untuk memperoleh pemahaman tentang diri sendiri. Pada tahap ini juga, anak-anak mulai melakukan kegiatan meniru meski tidak sempurna.
Contoh :
Kata “makan” yang diajarkan ibu kepada anaknya yang masih balita diucapkan “mam”. Makna kata tersebut juga belum dipahami secara tepat oleh anak. Lama kelamaan anak memahami secara tepat makna kata makan tersebut dengan kenyataan yang dialaminya.
Tahap ini ditandai dengan semakin sempurnanya seorang anak menirukan peran-peran yang dilakukan oleh orang dewasa. Pada tahap ini mulai terbentuk kesadaran tentang nama diri dan siapa nama orang tuanya, kakaknya, dan sebagainya. Anak mulai menyadari tentang apa yang dilakukan seorang ibu dan apa yang diharapkan seorang ibu dari anaknya. Dengan kata lain, kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain juga mulai terbentuk pada tahap ini. Kesadaran bahwa dunia sosial manusia berisikan orang-orang yang jumlahnya banyak telah mulai terbentuk. Sebagian dari orang tersebut merupakan orang-orang yang dianggap penting bagi pembentukan dan bertahannya diri, yakni darimana anak menyerap nilai dan norma. Bagi seorang anak, orang-orang ini disebut orang-orang yang amat berarti (significant other).

Peniruan yang dilakukan sudah mulai berkurang dan digantikan oleh peran yang secara langsung dimainkan sendiri dengan penuh kesadaran. Kemampuannya menempatkan diri pada posisi orang lain pun meningkat sehingga memungkinkan adanya kemampuan bermain secara bersama-sama. Dia mulai menyadari adanya tuntutan untuk membela keluarga dan bekerja sama dengan teman-temannya. Pada tahap ini lawan berinteraksi semakin banyak dan hubungannya semakin kompleks. Individu mulai berhubungan dengan teman-teman sebaya diluar rumah. Peraturan-peraturan yang berlaku diluar keluarganya secara bertahap juga mulai dipahami. Bersamaan dengan itu, anak mulai menyadari bahwa ada norma tertentu yang berlaku diluar keluarganya.

Pada tahap ini seseorang telah dianggap dewasa. Dia sudah dapat menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara luas. Ia dapat bertenggang rasa tidak hanya dengan orang-orang yang berinteraksi dengannya tapi juga dengan masyarakat secara luas. Manusia dewasa menyadari pentingnya peraturan, kemampuan bekerja sama, bahkan dengan orang lain yang tidak dikenalnya. Manusia dengan perkembangan diri pada tahap ini telah menjadi masyarakat dalam arti sepenuhnya. 


Charles H. Cooley menekankan peran interaksi dalam proses sosialisasi. Menurut Cooley, konsep diri (self concept) seseorang berkembang melalui interaksinya dengan orang lain. Diri yang berkembang melalui interaksi dengan orang lain ini dinamakan looking-glass self (diri yang bercermin/memandang diri sendiri) yang terbentuk melalui 3 tahap, yaitu :
1.      Kita membayangkan bagaimana kita dimata orang lain.
Seorang anak merasa dirinya sebagai anak yang paling hebat dan yang paling pintar karena sang anak memiliki prestasi dikelas dan selalu menang di berbagai lomba.
2.      Kita membayangkan bagaimana orang lain menilai diri kita.
Dengan pandangan bahwa si anak adalah anak yang paling hebat, sang anak membayangkan pandangan orang lain terhadapnya. Ia merasa orang lain selalu memuji dia dan selalu percaya pada tindakannya. Perasaan ini bisa muncul dari perlakuan orang terhadap dirinya. Misalnya, gurunya selalu mengikutsertakan dirinya dalam berbagi lomba atau orang tuanya selalu memamerkannya kepada orang lain. Ingatlah bahwa pandangan ini belum tentu benar. Sang anak mungkin merasa dirinya hebat padahal bila dibandingkan oleh orang lain, ia tidak ada apa-apanya. Perasaan hebat ini bisa jadi menurun kalau sang anak memperoleh informasi dari orang lain bahwa ada anak yang lebih hebat dari dia.
3.      Bagaimana perasaan kita sebagai akibat penilaian tersebut.
Dengan adanya penilaian bahwa sang anak adalah anak yang hebat, timbul perasaan bangga dan penuh percaya diri. Ingatlah selalu bahwa pandangan negatif juga memiliki efek yang sama. Seorang anak yang selalu diejek jelek atau nakal dapat merasa dirinya jelek atau nakal. Padahal pandangan itu belum tentu benar.

1.      Proses sosialisasi
Dalam hidup bermasyarakat, manusia akan melakukan 3 proses social yg saling terkait dan tidak bias dipisah-pisahkan. Ketiga proses sosial tersebut adalah:
a.       Proses internalisasi
Proses panjang sejak seseorang dilahirkan sampai meninggal dunia,
dimana ia belajar menanamkan dalam kepribadiannya segala perasaan, nafsu serta emosi yang diperlukan sepanjang hidupnya.

b.      Proses sosialisasi
Proses dimana seotrang individu mendapatkan pembentukan sikap untuk berperikelakuan sesuai dengan kelakuan kelompoknya.
c.       Proses enkulturasi
Proses dimana seorang individu mempelajari dan menyesuaikan alam fikiran serta sikapnya dengan adat istiadat,
system norma, dan peraturan-peraturan yang hidup dal kebudayaannya.

2.      Bentuk-bentuk sosialisasi
a.       Sosialisasi primer
Peter L. Berger dan Luckmann mendefinisikan sosialisasi primer sebagai sosialisasi pertama yang dijalani indivuidu semasa kecil dengan belajar menjadi anggota masyarakat (keluarga). Sosialisasi primer berlangsung saat anak beriusia 1-5 tahun atau saat anak belum masuk ke sekolah.anak mulai mengenal anggota keluarga dan lingkungan keluarga.secara bertahap ia mulai mampu membedakan dirinya dengan orang lain disekitar keluarganya.
Dalam tahap tersebut,peran orang-orang yang terdekat dengan anak menjadi sangat penting sebab seorang anak melakukan interaksi secara terbatas di dalamnya.warna kepribadian anak akan sangat ditentukan oleh warna kepribadian dan interaksi yang terjadi antara anak dengan anggota keluarga terdekatnya.di usia dini seperti ini,otak anak berkembang sangat pesat dan menyerap segala hal ( dari kegiatan fisik samapai keterampilan sosial dan emosional) dengan sangat cepat pula.dengan demikian,sosialisasi primer mengacu bukan saja pada masa awal anak mulai menjalani sosialisasi,tetapi lebih dari itu.alasannya,apapun yang diserap anak pada masa tersebut,akan menjadi ciri mendasar kepribadian anak setelah dewasa.

b.      Sosialisasi sekunder
Suatu proses sosialisasi lanjutan setelah sosialisasi primer yang memperkenalkan individu ke dalam kelompok tertentu dalam masyarakat. Bentuknya dapat berupa resosialisasi dan desosialisasi.dalam proses resosialisasi,seseorang diberi suatu identitas diri yang baru.sedangkan dalam proses desosialisasi,seseorang mengalami pencabutan identitas diri yang lama.
Menurut Goffman, kedua proses tersebut berlangsung dalam institusi total, yaitu tempat tinggal dan tempat bekerja.dalam kedua institusi tersebut,terdapat sejumlah individu dalam situasi yang sama,terpisah dari masyarakat luas dalam jangka waktu tertentu,nersama-sama menjalani hidup yang terkungkung,dan diatur secara formal.dengan berada pada lingkungan yang tertutup dalam jangka waktu tertentu,intensitas sosialitasnya akan lebih tinggi.

c.       Sosialisasi represi
Sosialisasi dengan cara represif ini menekan kan pada penggunaan hukuman (punishment) dalam kesalahan yang dilakukan oleh individu. Ciri-ciri lain dari sosialisasi ini adalah :
Penekanan pada penggunaan materi dalam hukuman dan imbalan
Kepatuhan anak terhadap orang tua
Komunikasi yang bersifat satu arah,non verbal,dan berisi perintah
Titik berat sosialisasi pada keinginan orang tua.
Keluarga merupakan significant other (dominasi orang tua)

d.      Sosialisasi partisipasi
Sosialisasi dengan cara partisipasi (participatory socialization) merupakan suatu pola ketika seorang anak diberikan imbalan (reward) jika berperilaku baik dan hukuman (punishment) jika berperilaku sebaliknya. Hukuman dan imbalan ini bersifat lebih simbolis.penekanan diletakkan pada interaksi,komunikasi bersifat lisan dan anak menjadi pusat sosial.kebutuhan anak dianggap penting,dan keluarga menjadi generalized other.

3.      Sifat-sifat sosialisasi
Ada 2 sifat dalam proses sosialisasi, yaitu:
a.       Sosialisasi otoriter
Sosialisasi yang dilakukan oleh pihak-pihak yang memiliki kedudukan tidak sama dan tidak sederajat, misalnya sosialisasi yang dilakukan pihak penguasa terhadap orang yang dikuasainya.

b.      Sosialisasi ekwaliter
Yaitu sosialisasi yang dilakukan oleh pihak-pihak yang memiliki kedudukan yang sama dan sederajat.
Misalnya antar teman sepermainan.


a.       Pengertian pembentukan kepribadian
Setiap individu memiliki kepribadian melalui sosialisasi sejak dilahirkan. Kepribadian Menunjuk pada pengaturan sikap-sikap sesorang yang berbuat, berfikir, dan merasakan, khusunya apabila dia berhubungan dengan orang lain atau menanggapi satu keadaan. Kepribadian mencakup kebiasaan, sikap, sifat yang dimiliki seseorang yang berkembang apabila seseorang berhubungan dengan orang lain.
Konsep kepribadian adalah konsep yang luas sehingga tidak mungkin dapat merumuskan satu definisi yang tajam tapi dapat mencangkup keseluruhannya. Oleh karena itu, pengertian dari satu ahli dengan lainnya berbeda-beda. Namun demikian, definisi yang berbeda-beda tersebut saling melengkapi dan memperkaya pemahaman tentang konsep kepribadian. Beberapa definisi kepribadian menurut para ahli antara lain sebagai berikut:
1.      M.A.W. Brower Kepribadian adalah corak tingkah laku social yang meliputi corak kekuatan, dorongan, keinginan, opini dan sikap-sikap seseorang.
2.      Jhon F. Cuber, kepribadian adalah gabungan keseluruhan dari sifat-sifat yang tampak dan dapat dilihat oleh seseorang.
3.      Theodore M. Newcomb berpendapat kepribadian merupakan organisasi sikap yang dimiliki seseorang sebagai latar belakang dari prilakunya. Hal ini berarti kepribadian menunjuk pada organisasi dari sikap-sikap seorang individu untuk berbuat, mengetahui, berpikir, dan merasakan secara khusus apabila ia berhubungan dengan orang lain atau ketika ia menanggapi suatu masalah atau keadaan.
4.      Roucek dan Warren dalam buku mereka yang berjudul “Sociology an Introduction” mendefenisikan kepribadian sebagai organisasi faktor-faktor biologis, psikologis dan sosiologis yang mendasari prilaku seorang individu. Faktor-faktor itu meliputi keadaan fisik, system syaraf, watak seksual, proses pendewasaan individu yang bersangkutan, dan kelainan-kelainan biologis lainnya. Adapun factor psikologis meliputi unsur temperamen, perasaan, keterampilan, kemampuan belajar dan sebagainya. Sedangkan factor sosiologis dapat berupa proses sosialisasi yang ia peroleh sejak kecil.
5.      Koentjaraningrat, seorang ahli antropologi Indonesia menyatakan kepribadian sebagai susunan dari unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan tingkah laku atau tindakan seorang individu.

Pola-pola perilaku setiap manusia secara individual sebenarnya unik dan berbeda satu sama lainnya. Perilaku manusia ditentukan oleh naluri, dorongan-dorongan, refleks-refleks atau kelakuan manusia yang tidak lagi dipengaruhi dan ditentukan oleh akal dan jiwanya seperti tindakan yang membabi buta.
Unsure-unsur akal dan jiwa yang menentukan perbedaan perilaku tiap-tiap individu itu disebut juga susunan kepribadian,
yang meliputi hal-hal dibawah ini.
Pengetahuan individu terisi dengan fantasi, pemahaman dan konsep yang lahir dan pengamatan dan pendalaman mengenai bermacam-macam hal yang berbeda dalam lingkungan individu tersebut. Semuah itu direkam dalam otak dan sedikit demi sedikit diungkapkan oleh individu tersebut dalam bentuk perilaku. 

Perasaan adalah suatu keadaan dalam kesadaran manusia yang menghasilkan penilaian positif atau negative terhadap sesuatu. Bentuk penilaian dipengaruhi oleh pengetahuannya. Oleh karena itu,perasaan selalu bersifat subjektif karena adanya unsure penilaian tadi,yang bisa jadi berbeda dengan yang lain. Perasaan mengisi penuh kesadaran manusia tiap saat dalam hidupnya.

Dorongan naluri adalah kemauan yang merupakan naluri pada setiap manusia. Sedikitnya ada tujuh macam dorongan naluri, yaitu:
·         Dorongan untuk mempertahankan hidup.
·         Dorongan seksual.
·         Dorongan untuk mencari makan.
·         Dorongan untuk bergaul dan berinteraksi dengan sesame manusia.
·         Dorongan untuk meniru tingkah laku sesamanya.
·         Dorongan untuk berbakti.
·         Dorongan akan keindahan bentuk, warna, suara, dan gerak.

c.       Faktor-faktor pembentuk kepribadian
Kepribadian terbentuk,
berkembang, dan berubah seiring dengan proses sosialisasi yang dipengaruhi oleh factor-faktor sebagai berikut:
a.       Faktor biologis
Semua manusia yang normal dan sehat memiliki persamaan biologis tertentu, seperti memiliki dua tangan, panca indera, kelenjar seksual, dan otak yang rumit. Persamaan biologis ini membantu menjelaskan beberapa persamaan dalam kepribadian dan perilaku semuah orang. Setiap warisan biologis selalu bersifat unik. Hal yang lain yang juga mempengaruhi kepribadian adalah kematangan biologis. Tidak semuah factor karakteristik fisik menggambarkan kepribadian seseorang. Misalnya, orang gemuk adalah orang periang, orang yang keningnya lebar adalah orang cerdas, dan orang dengan rahang lebar mempunyai kepribadian kuat.

b.      Faktor geografis (lingkungan fisik)
Orang-orang aborigin harus berjuang lebih gigih untuk dapat bertahan hidup, sementara bangsa Samoa hanya memerlukan sedikit waktu untuk mendapatkan makanan yang akan dimakan sehari-hari karena alamnya lebih subur. Beberapa suku bangsa di Uganda mengalami kelaparan berkepanjangan karena lingkungan alam tempat mereka mencari nafkah telah banyak yang rusak. Mereka menjadi orang-orang yang tamak dan rakus. Perkelahian antara mereka sering terjadi karena memperebutkan makanan untuk sekedar mempertahankan hidup.

c.       Faktor kebudayaan khusus
Perbedaan kebudayaan dalam setiap masyarakat dapat mempengaruhi kepribadian seseorang. Meskipun demikian, para sosiolog menyarankan untuk tidak terlalu memperbesar-besarkan masalah ini. Misalnya, kebudayaan petani, kebudayaan kota, dan kebudayaan industry tentu memperlihatkan corak kepribadian yang berbeda-beda. memang terdapat karakteristik kepribadian umum dari suatu masyarakat. Namun, tidak berarti bahwa semuah anggota termasuk didalamnya. Sejalan dengan itu, ketika membahas kepribadian umum bangsa-bangsa, suku bangsa, kelas social, dan kelompok-kelompok berdasarkan pekerjaan, daerah, maupun kelompok social lainnya.

d.      Faktor pengalaman kelompok
Anggota kelompok yang lain cukup penting perannya bagi individu dalam mengembangkan kepribadian yang positif. Kelompok yang berpengaruh dalam perkembangan kepribadian seorang dibedakan menjadi dua:
1.      Kelompok acuan (kelompok referensi)
Sepanjang hidup seseorang,
kelompok-kelompok tertentu di jadikan model yang penting bagi gagasan atau norma-norma perilaku. Mula-mula kelompok keluarga adalah kelompok yang dimiliki bayi selama masa-masa yang paling peka. Pembentukan kepribadian seseorang sangat ditentukan oleh pola hubungan dengan tahun-tahun pertama. Selain keluarga, kelompok referensi yang lain adalah teman-teman sebaya yang sama usia dan statusnya.
2.      Kelompok majemuk
Kelompok majemuk menunjuk pada kenyataan masyarakat yang lebih beraneka ragam. Bermacam-macam kelompok ini memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang aneka nilai dan norma dalam masyarakat. Suatu norma yang dianggap penting oleh satu kelompok masyarakat dapat saja dianggap tidak perlu oleh anggota masyarakat lainnya.


e.       Faktor pengalaman unik
Pada lingkungan keluarga yang sama, tidak ada individu yang memiliki kepribadian yang sama, karena meskipun berada dalam satu keluarga tidak mendapatkan pengalaman yang sama. Begitu juga dengan pengalaman yang dialami oleh seseorang yang lahir kembali, tidak akan selalu sama. Arti dan pengaruh suatu pengalaman tergantung pada pengalaman-pengalaman yang mendahuluinya. Pengalaman-pengalaman yang unik akan mempengaruhi kepribadian seseorang. Kepribadian berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya karena pengalaman yang dialami seseorang itu unik dan tidak ada satu orang pun yang dapat menyamainya.










BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Secara sederhana sosialisasi dapat diartikan sebagai sebuah proses seumur hidup yang berkenaan dengan bagaimana individu mempelajari cara-cara hidup serta norma dan nilai sosial yang terdapat dalam kelompoknya agar dapat berkembang menjadi pribadi yang dapat diterima oleh kelompoknya
Berikut Tahap-tahap dalam bersosialisasi :
a.       Tahap persiapan (preparatory stage)
b.      Tahap meniru (play stage)
c.       Tahap siap bertindak (game stage)
d.      Tahap penerimaan norma kolektif (generalized stage)
Setiap individu memiliki kepribadian melalui sosialisasi sejak dilahirkan. Kepribadian Menunjuk pada pengaturan sikap-sikap sesorang yang berbuat, berfikir, dan merasakan, khusunya apabila dia berhubungan dengan orang lain atau menanggapi satu keadaan. Kepribadian mencakup kebiasaan, sikap, sifat yang dimiliki seseorang yang berkembang apabila seseorang berhubungan dengan orang lain.
Pola-pola perilaku setiap manusia secara individual sebenarnya unik dan berbeda satu sama lainnya. Perilaku manusia ditentukan oleh naluri, dorongan-dorongan, refleks-refleks atau kelakuan manusia yang tidak lagi dipengaruhi dan ditentukan oleh akal dan jiwanya seperti tindakan yang membabi buta.
Unsure-unsur akal dan jiwa yang menentukan perbedaan perilaku tiap-tiap individu itu disebut juga susunan kepribadian, yang meliputi hal-hal dibawah ini.
a.       Pengetahuan
b.      Perasaan
c.       Dorongan naluri

B.     Kritik dan Saran
Demikianlah makalah tentang Sosialisasi Dan Pembentukan Kepribadian” yang telah kami paparkan. Kami menyadari makalah ini jauh dari sempurna maka dari itu kritik yang membangun dari pembaca sangat kami harapkan untuk perbaikan. Harapan kami, semoga makalah ini dapat memberi pengetahuan baru dan bermanfaat bagi kita semua.




DAFTAR PUSTAKA

Muin idianto. 2006. Sosiologi SMA/MA jilid 1 untuk kelas X. jl.H. Baping Raya No.100 Ciracas, jakarta 13740, Penerbit Erlangga.
Ali nur, S. Pd, ktsp. 2006. Sosiologi SMA-MA/X/semester genap. Jawa Timur. tim penulis modul sosiologi.
Setiadi,
elly M., Kolip, Usman. (2010)”pengantar sosiologi”.jakarta:kencana.
Tim Sosiologi. 2007. Sosiologi SMA kelas X (cet-3). Jakarta: Yudhistira
Fritz, Damanik. 2006. Seribupena Sosiologi untuk SMA Kelas X. Jakarta: Erlangga.
Kun Maryati. 2004. Sosiologi SMA Kelas X. Jakarta: Esis.
Uno B. Hamzah. 2009. Teori Motivasi & Pengukurannya. Jakarta: Bumi Aksara. Wursanto. 2003. Etika Komunikasi. Yogyakarta: Kansius. Yani. 2009. Interaksi Sosial. Yogyakarta. Bumi Aksara




Tidak ada komentar:

Posting Komentar