MAKALAH SOSIALISASI DAN PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN
PRODI PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM
Dosen Pembimbing : Resdati, M. Si
OLEH KELOMPOK 5 :
Ø Muhammad
Mauladi
FAKULTAS DAKWAH
DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI
SULTAN SYARIF
KASIM RIAU
Ø
KATA
PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, puji
syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan Rahmat,
Hidayah, dan Inayah-Nya sehingga kami dapat merampungkan penyusunan makalah SOSIOLOGI dengan judul "SOSIALISASI DAN PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN" tepat pada waktunya.
Penyusunan makalah semaksimal mungkin kami upayakan dan didukung bantuan
berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar dalam penyusunannya. Untuk itu
tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
kami dalam merampungkan makalah ini.
Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih
terdapat kekurangan baik dari segi penyusunan bahasa dan aspek lainnya. Oleh
karena itu, dengan lapang dada kami membuka selebar-lebarnya pintu bagi para
pembaca yang ingin memberi saran maupun kritik demi memperbaiki makalah ini.
Akhirnya penyusun sangat mengharapkan semoga dari makalah sederhana ini
dapat diambil manfaatnya dan besar keinginan kami dapat menginspirasi para
pembaca untuk mengangkat permasalahan lain yang relevan pada makalah-makalah
selanjutnya.
Pekanbaru, 15 September 2018
Kelompok 5 (HIMAKU)
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.................................................................................................................. i
KATA PENGANTAR .............................................................................................................. ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................................... 1
A. LATAR BELAKANG................................................................................................... 1
B. RUMUSAN MASALAH.............................................................................................. 1
C. TUJUAN........................................................................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN........................................................................................................... 2
A. SOSIALISASI............................................................................................................... 2
a.
Pengertian
sosialisasi.............................................................................................. 2
b.
Tahap-tahap
sosialisasi.......................................................................................... 3
c. Proses, bentuk dan sifat
sosialisasi........................................................................ 6
B. PEMBENTUKAN
KEPRIBADIAN........................................................................... 8
a. Pengertian
pembentukan kepribadian................................................................. 8
b. Susunan
Kepribadian............................................................................................. 9
c. Faktor-faktor pembentuk kepribadian.............................................................. 10
BAB III PENUTUP................................................................................................................. 13
A. Kesimpulan.................................................................................................................. 13
B. Kritik dan
Saran......................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................... iv
BAB
I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Di dalam kehidupan masyarakat ada nilai dan norma sosial sebagai pedoman berprilaku masyarakat agar kehidupan social menjadi tertib. Perilaku yang tidak sejalan dengan nilai dan norma sosial disebabkan oleh unsure kesengajaan karna nilai-nilai dan norma sosial dianggap sebagai ikatan yang mengurangi kebebasan perilaku, juga unsur ketidaktahuannya karna tidak tersosialisasinya sperangkat nilai-nilai dan norma sosial yang ada. Hal itu semata-mata didorong oleh keinginan masyarakat agar kelangsungan hidupnya dapat bertahan, sebab tanpa ketertiban sosial, maka kehidupan sosial tidak akan bertahan lama.
Adapun proses pembentukan nilai-nilai dan norma sosial secara garis besar dibedakan menjadi 2 macam yaitu: niali-nilai dan norma sosial terbentuk secara alamiah akibat interaksi sosial juga nilai-nilai dan norma sosial terbentuk melalui unsure kesengajaan, dalam arti terbentuknya nilai-nilai dan norma sosial memang merupakan kebutuhan pada saat tertentu akibat dari berbagai pelanggaran yang dilakukan oleh sebagian anggota masyarakat
Di dalam kehidupan masyarakat ada nilai dan norma sosial sebagai pedoman berprilaku masyarakat agar kehidupan social menjadi tertib. Perilaku yang tidak sejalan dengan nilai dan norma sosial disebabkan oleh unsure kesengajaan karna nilai-nilai dan norma sosial dianggap sebagai ikatan yang mengurangi kebebasan perilaku, juga unsur ketidaktahuannya karna tidak tersosialisasinya sperangkat nilai-nilai dan norma sosial yang ada. Hal itu semata-mata didorong oleh keinginan masyarakat agar kelangsungan hidupnya dapat bertahan, sebab tanpa ketertiban sosial, maka kehidupan sosial tidak akan bertahan lama.
Adapun proses pembentukan nilai-nilai dan norma sosial secara garis besar dibedakan menjadi 2 macam yaitu: niali-nilai dan norma sosial terbentuk secara alamiah akibat interaksi sosial juga nilai-nilai dan norma sosial terbentuk melalui unsure kesengajaan, dalam arti terbentuknya nilai-nilai dan norma sosial memang merupakan kebutuhan pada saat tertentu akibat dari berbagai pelanggaran yang dilakukan oleh sebagian anggota masyarakat
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa itu sosialisasi?
2. Apa tahap-tahap dalam sosialisasi?
3. Apa saja proses, bentuk dan sifat
sosialisasi?
4. Siapa saja agen dalam sosialisasi?
5. Apa pengertian kepribadian?
C. TUJUAN
1. Untuk menjelaskan pengertian sosialisasi
2. Untuk menjelaskan apa saja tahap-tahap dalam
sosialisasi
3. Untuk menjelaskan proses, bentuk dan sifat
sosialisasi
4. Untuk menjelaskan agen dalam sosialisasi
5. Untuk menjelaskan pengertian kepribadian
BAB II
PEMBAHASAN
a. Pengertian sosialisasi
Secara sederhana sosialisasi dapat diartikan sebagai sebuah proses seumur
hidup yang berkenaan dengan bagaimana individu mempelajari cara-cara hidup
serta norma dan nilai sosial yang terdapat dalam kelompoknya agar dapat
berkembang menjadi pribadi yang dapat diterima oleh kelompoknya. Manfaat sosialisasi, masyarakat dapat memahami perilaku mana yang harusnya
diperbolehkan, dan yang tidak diperbolehkan. Sosialisasi selalu dimulai dari
lingkungan keluarga sebagai kesatuan unit terkecil, misalnya seseorang yang
lahir pada awalnya tidak mengetahui siapa dirinya, walaupun didalam dirinya
terdapat potensi untuk berkembang. Potensi ini adalah kemampuan (capability),
bakat (talent) yang terpendam dalam dirinya yang belum dikembangkan atau
diwujudkan. Seseoarng lahir sebagai makhluk sosial yang hidup ditengah
pergaulan manusia dengan tata kelakuan yang menjadi pedoman kelakuan yang baik
dan yang tidak baik.
Pokok pembahasan diatas
memberikan deskripsi bahwa hanya melalui proses sosialisasi saja nilai-nilai
dan norma sosial (yang menjadi pedoman tata kelakuan) dapat diwariskan dan
diteruskan ke antargenerasi, terlepas apakah realitas sosial yang ada mengalami
perubahan atau tidak. Melalui sosialisasi para generasi masyarakat dapat
belajar tentang bagaimana mereka seharusnya bertingkah laku dalam kondisi
sosial tertentu ketika berhubungan dengan orang lain.
Berikut ini adalah
batasan sosialisasi yang diberikan oleh para pakar :
o
Charlotte Buehler, mendefinisikan
sosialisasi sebagi proses yang membantu individu-individu belajar dan
menyesuaikan diri, bagaiman cara hidup dan berfikir kelompoknya agar ia dapat
berperan dan berfungsi dalam kelompoknya.
o
Peter Berger, mendefinisikan
sosialisasi sebagai proses dimana anak belajar menjadi seorang anggota yang berpartisipasi
dalam masyarakat.
o
Bruce J. Cohen, mendefinisikan
sosialisasi sebagai proses-proses manusia mempelajari tata cara kehidupan dalam
masyarakat, untuk memperoleh kepribadian dan membangun kapasitas agar berfungsi
dengan baik sebagai individu maupun sebagai anggota satu kelompok.
o
Karel J. Veeger, mendefinisikan sosialisasi sebagai suatu proses
belajar mengajar, melalui individu belajar menjadi anggota masyarakat, diman
prosesnya tidak semata-mata mengerjakan pola-pola perilaku sosial kepada individu
tetapi juga individu tersebut mengembangkan dirinya atau melakukan proses
pendewasaan dirinya
o
Robert M. Z. Lawang, sosialisasi merupakan proses mempelajari norma,
nilai, peran, dan semua persyaratan lainnya yang diperlukan untuk memungkinkan
partisipasi yang efektif dalam kehidupan sosial
o
Soerjono Soekamto, soialisasi merupakan proses dimana anggota
masyarakat yang baru mempelajari norma-norma dan nilai-nilai masyarakat diman
ia menjadi anggota.
o
M. Sitorus, sosialisasi merupakan proses diman seorang
mempelajari pola-pola hidup dalam masyarakat sesuai dengan nilai-nilai, norma
dan kebiasaan yang berlaku untuk berkembang sebagai anggota masyarakat dan
sebagai individu (pribadi).
Penyesuaiaan diri
terjadi secara berangsur-angsur, seiring dengan perluasan dan pertumbuhan pengetahuan serta penerimaan
individu terhadap nilai dan norma yang terdapat dalam lingkungan masyarakat
tempat ia berada. Perubahan lingkungan dapat menyebabkan terjadinya perubahan
perilaku dan tindakan seseorang karena telah terjadi penerapan nilai-nilai dan
norma-norma baru yang berbeda dari nilai dan norma yang ia miliki sebelumnya.
Beraneka nilai dan norma itu diserap manusia melalui sosialisasi.
Sejumlah sosiolog
menyebut sosialisasi sebagai teori mengenai peran (role theory), karena dalam
proses sosialisasi diajarkan peran-peran yang harus dijalankan oleh individu. George
Herbert Mead berpendapat bahwa sosialisasi yang dilalui seseorang dapat
dibedakan melalui tahap-tahap sebagai berikut :
Tahap ini dialami sejak
manusia dilahirkan, saat seorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia
sosialnya, termasuk untuk memperoleh pemahaman tentang diri sendiri. Pada tahap
ini juga, anak-anak mulai melakukan kegiatan meniru meski tidak sempurna.
Contoh : Kata “makan” yang diajarkan ibu kepada anaknya yang masih balita diucapkan “mam”. Makna kata tersebut juga belum dipahami secara tepat oleh anak. Lama kelamaan anak memahami secara tepat makna kata makan tersebut dengan kenyataan yang dialaminya.
Contoh : Kata “makan” yang diajarkan ibu kepada anaknya yang masih balita diucapkan “mam”. Makna kata tersebut juga belum dipahami secara tepat oleh anak. Lama kelamaan anak memahami secara tepat makna kata makan tersebut dengan kenyataan yang dialaminya.
Tahap ini ditandai
dengan semakin sempurnanya seorang anak menirukan peran-peran yang dilakukan
oleh orang dewasa. Pada tahap ini mulai terbentuk kesadaran tentang nama diri
dan siapa nama orang tuanya, kakaknya, dan sebagainya. Anak mulai menyadari
tentang apa yang dilakukan seorang ibu dan apa yang diharapkan seorang ibu dari
anaknya. Dengan kata lain, kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang
lain juga mulai terbentuk pada tahap ini. Kesadaran bahwa dunia sosial manusia
berisikan orang-orang yang jumlahnya banyak telah mulai terbentuk. Sebagian
dari orang tersebut merupakan orang-orang yang dianggap penting bagi
pembentukan dan bertahannya diri, yakni darimana anak menyerap nilai dan norma.
Bagi seorang anak, orang-orang ini disebut orang-orang yang amat berarti
(significant other).
Peniruan yang dilakukan
sudah mulai berkurang dan digantikan oleh peran yang secara langsung dimainkan
sendiri dengan penuh kesadaran. Kemampuannya menempatkan diri pada posisi orang
lain pun meningkat sehingga memungkinkan adanya kemampuan bermain secara
bersama-sama. Dia mulai menyadari adanya tuntutan untuk membela keluarga dan
bekerja sama dengan teman-temannya. Pada tahap ini lawan berinteraksi semakin
banyak dan hubungannya semakin kompleks. Individu mulai berhubungan dengan
teman-teman sebaya diluar rumah. Peraturan-peraturan yang berlaku diluar
keluarganya secara bertahap juga mulai dipahami. Bersamaan dengan itu, anak
mulai menyadari bahwa ada norma tertentu yang berlaku diluar keluarganya.
Pada tahap ini
seseorang telah dianggap dewasa. Dia sudah dapat menempatkan dirinya pada
posisi masyarakat secara luas. Ia dapat bertenggang
rasa tidak hanya dengan orang-orang yang berinteraksi dengannya tapi juga
dengan masyarakat secara luas. Manusia dewasa menyadari pentingnya peraturan,
kemampuan bekerja sama, bahkan dengan orang lain yang tidak dikenalnya. Manusia
dengan perkembangan diri pada tahap ini telah menjadi masyarakat dalam arti
sepenuhnya.
Charles H. Cooley menekankan peran interaksi dalam proses sosialisasi. Menurut Cooley,
konsep diri (self concept) seseorang berkembang melalui interaksinya dengan
orang lain. Diri yang berkembang melalui interaksi dengan orang lain ini
dinamakan looking-glass self (diri yang bercermin/memandang diri sendiri) yang
terbentuk melalui 3 tahap, yaitu :
1. Kita membayangkan bagaimana kita dimata orang lain.
Seorang anak merasa dirinya sebagai anak yang paling hebat dan yang paling pintar karena sang anak memiliki prestasi dikelas dan selalu menang di berbagai lomba.
Seorang anak merasa dirinya sebagai anak yang paling hebat dan yang paling pintar karena sang anak memiliki prestasi dikelas dan selalu menang di berbagai lomba.
2. Kita membayangkan bagaimana orang lain menilai diri
kita.
Dengan pandangan bahwa si anak adalah anak yang paling hebat, sang anak membayangkan pandangan orang lain terhadapnya. Ia merasa orang lain selalu memuji dia dan selalu percaya pada tindakannya. Perasaan ini bisa muncul dari perlakuan orang terhadap dirinya. Misalnya, gurunya selalu mengikutsertakan dirinya dalam berbagi lomba atau orang tuanya selalu memamerkannya kepada orang lain. Ingatlah bahwa pandangan ini belum tentu benar. Sang anak mungkin merasa dirinya hebat padahal bila dibandingkan oleh orang lain, ia tidak ada apa-apanya. Perasaan hebat ini bisa jadi menurun kalau sang anak memperoleh informasi dari orang lain bahwa ada anak yang lebih hebat dari dia.
Dengan pandangan bahwa si anak adalah anak yang paling hebat, sang anak membayangkan pandangan orang lain terhadapnya. Ia merasa orang lain selalu memuji dia dan selalu percaya pada tindakannya. Perasaan ini bisa muncul dari perlakuan orang terhadap dirinya. Misalnya, gurunya selalu mengikutsertakan dirinya dalam berbagi lomba atau orang tuanya selalu memamerkannya kepada orang lain. Ingatlah bahwa pandangan ini belum tentu benar. Sang anak mungkin merasa dirinya hebat padahal bila dibandingkan oleh orang lain, ia tidak ada apa-apanya. Perasaan hebat ini bisa jadi menurun kalau sang anak memperoleh informasi dari orang lain bahwa ada anak yang lebih hebat dari dia.
3. Bagaimana perasaan kita sebagai akibat penilaian tersebut.
Dengan adanya penilaian bahwa sang anak adalah anak yang hebat, timbul perasaan bangga dan penuh percaya diri. Ingatlah selalu bahwa pandangan negatif juga memiliki efek yang sama. Seorang anak yang selalu diejek jelek atau nakal dapat merasa dirinya jelek atau nakal. Padahal pandangan itu belum tentu benar.
Dengan adanya penilaian bahwa sang anak adalah anak yang hebat, timbul perasaan bangga dan penuh percaya diri. Ingatlah selalu bahwa pandangan negatif juga memiliki efek yang sama. Seorang anak yang selalu diejek jelek atau nakal dapat merasa dirinya jelek atau nakal. Padahal pandangan itu belum tentu benar.
1. Proses sosialisasi
Dalam hidup
bermasyarakat, manusia akan melakukan 3 proses social yg saling terkait dan tidak bias
dipisah-pisahkan. Ketiga proses sosial tersebut adalah:
a. Proses internalisasi
Proses panjang sejak seseorang dilahirkan sampai meninggal dunia, dimana ia belajar menanamkan dalam kepribadiannya segala perasaan, nafsu serta emosi yang diperlukan sepanjang hidupnya.
Proses panjang sejak seseorang dilahirkan sampai meninggal dunia, dimana ia belajar menanamkan dalam kepribadiannya segala perasaan, nafsu serta emosi yang diperlukan sepanjang hidupnya.
b. Proses sosialisasi
Proses dimana seotrang individu mendapatkan pembentukan sikap untuk berperikelakuan sesuai dengan kelakuan kelompoknya.
Proses dimana seotrang individu mendapatkan pembentukan sikap untuk berperikelakuan sesuai dengan kelakuan kelompoknya.
c. Proses enkulturasi
Proses dimana seorang individu mempelajari dan menyesuaikan alam fikiran serta sikapnya dengan adat istiadat, system norma, dan peraturan-peraturan yang hidup dal kebudayaannya.
Proses dimana seorang individu mempelajari dan menyesuaikan alam fikiran serta sikapnya dengan adat istiadat, system norma, dan peraturan-peraturan yang hidup dal kebudayaannya.
2. Bentuk-bentuk sosialisasi
a. Sosialisasi primer
Peter L. Berger dan Luckmann
mendefinisikan sosialisasi primer sebagai sosialisasi pertama yang dijalani
indivuidu semasa kecil dengan belajar menjadi anggota masyarakat (keluarga). Sosialisasi primer berlangsung saat anak beriusia
1-5 tahun atau saat anak belum masuk ke sekolah.anak mulai mengenal anggota
keluarga dan lingkungan keluarga.secara bertahap ia mulai mampu membedakan
dirinya dengan orang lain disekitar keluarganya.
Dalam
tahap tersebut,peran orang-orang yang terdekat dengan anak menjadi sangat
penting sebab seorang anak melakukan interaksi secara terbatas di
dalamnya.warna kepribadian anak akan sangat ditentukan oleh warna kepribadian
dan interaksi yang terjadi antara anak dengan anggota keluarga terdekatnya.di
usia dini seperti ini,otak anak berkembang sangat pesat dan menyerap segala hal
( dari kegiatan fisik samapai keterampilan sosial dan emosional) dengan sangat
cepat pula.dengan demikian,sosialisasi primer mengacu bukan saja pada masa awal
anak mulai menjalani sosialisasi,tetapi lebih dari itu.alasannya,apapun yang
diserap anak pada masa tersebut,akan menjadi ciri mendasar kepribadian anak
setelah dewasa.
b. Sosialisasi sekunder
Suatu proses sosialisasi
lanjutan setelah sosialisasi primer yang memperkenalkan individu ke dalam
kelompok tertentu dalam masyarakat. Bentuknya dapat berupa resosialisasi dan desosialisasi.dalam proses
resosialisasi,seseorang diberi suatu identitas diri yang baru.sedangkan dalam
proses desosialisasi,seseorang mengalami pencabutan identitas diri yang lama.
Menurut Goffman, kedua proses tersebut
berlangsung dalam institusi total, yaitu tempat tinggal dan tempat bekerja.dalam kedua institusi
tersebut,terdapat sejumlah individu dalam situasi yang sama,terpisah dari
masyarakat luas dalam jangka waktu tertentu,nersama-sama menjalani hidup yang
terkungkung,dan diatur secara formal.dengan berada pada lingkungan yang
tertutup dalam jangka waktu tertentu,intensitas sosialitasnya akan lebih
tinggi.
c. Sosialisasi represi
Sosialisasi dengan cara
represif ini menekan kan pada penggunaan hukuman (punishment) dalam kesalahan
yang dilakukan oleh individu. Ciri-ciri
lain dari sosialisasi ini adalah :
Penekanan pada penggunaan materi dalam hukuman dan imbalan
Kepatuhan anak terhadap orang tua
Komunikasi yang bersifat satu arah,non verbal,dan berisi perintah
Titik berat sosialisasi pada keinginan orang tua.
Keluarga merupakan significant other (dominasi orang tua)
Penekanan pada penggunaan materi dalam hukuman dan imbalan
Kepatuhan anak terhadap orang tua
Komunikasi yang bersifat satu arah,non verbal,dan berisi perintah
Titik berat sosialisasi pada keinginan orang tua.
Keluarga merupakan significant other (dominasi orang tua)
d. Sosialisasi partisipasi
Sosialisasi dengan cara
partisipasi (participatory socialization) merupakan suatu pola ketika seorang
anak diberikan imbalan (reward) jika berperilaku baik dan hukuman (punishment)
jika berperilaku sebaliknya. Hukuman dan imbalan ini bersifat lebih simbolis.penekanan diletakkan pada
interaksi,komunikasi bersifat lisan dan anak menjadi pusat sosial.kebutuhan
anak dianggap penting,dan keluarga menjadi generalized other.
3. Sifat-sifat sosialisasi
Ada 2 sifat dalam proses sosialisasi, yaitu:
a. Sosialisasi otoriter
Sosialisasi yang
dilakukan oleh pihak-pihak yang memiliki kedudukan tidak sama dan tidak
sederajat, misalnya sosialisasi yang dilakukan pihak penguasa terhadap orang yang
dikuasainya.
b. Sosialisasi ekwaliter
Yaitu sosialisasi yang dilakukan oleh pihak-pihak yang memiliki kedudukan yang sama dan sederajat. Misalnya antar teman sepermainan.
Yaitu sosialisasi yang dilakukan oleh pihak-pihak yang memiliki kedudukan yang sama dan sederajat. Misalnya antar teman sepermainan.
a.
Pengertian pembentukan kepribadian
Setiap individu memiliki kepribadian melalui sosialisasi sejak dilahirkan.
Kepribadian Menunjuk pada pengaturan sikap-sikap sesorang yang berbuat, berfikir, dan merasakan, khusunya apabila dia
berhubungan dengan orang lain atau menanggapi satu keadaan. Kepribadian
mencakup kebiasaan, sikap, sifat yang dimiliki seseorang yang berkembang apabila seseorang berhubungan
dengan orang lain.
Konsep kepribadian
adalah konsep yang luas sehingga tidak mungkin dapat merumuskan satu definisi
yang tajam tapi dapat mencangkup keseluruhannya. Oleh karena itu, pengertian dari satu
ahli dengan lainnya berbeda-beda. Namun demikian, definisi yang
berbeda-beda tersebut saling melengkapi dan memperkaya pemahaman tentang konsep
kepribadian. Beberapa definisi kepribadian menurut para ahli antara lain
sebagai berikut:
1. M.A.W. Brower Kepribadian adalah corak tingkah laku social yang meliputi corak kekuatan, dorongan, keinginan, opini dan sikap-sikap
seseorang.
2. Jhon F. Cuber, kepribadian adalah
gabungan keseluruhan dari sifat-sifat yang tampak dan dapat dilihat oleh seseorang.
3. Theodore M. Newcomb berpendapat kepribadian merupakan organisasi sikap yang dimiliki
seseorang sebagai latar belakang dari prilakunya. Hal ini berarti kepribadian
menunjuk pada organisasi dari sikap-sikap seorang individu untuk berbuat,
mengetahui, berpikir, dan merasakan secara khusus apabila ia berhubungan dengan
orang lain atau ketika ia menanggapi suatu masalah atau keadaan.
4. Roucek dan Warren dalam
buku mereka yang berjudul “Sociology an Introduction” mendefenisikan
kepribadian sebagai organisasi faktor-faktor biologis, psikologis dan
sosiologis yang mendasari prilaku seorang individu. Faktor-faktor itu meliputi
keadaan fisik, system syaraf, watak seksual, proses pendewasaan individu yang
bersangkutan, dan kelainan-kelainan biologis lainnya. Adapun factor psikologis
meliputi unsur temperamen, perasaan, keterampilan, kemampuan belajar dan
sebagainya. Sedangkan factor sosiologis dapat berupa proses sosialisasi yang ia
peroleh sejak kecil.
5. Koentjaraningrat, seorang ahli antropologi Indonesia menyatakan kepribadian sebagai
susunan dari unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan tingkah laku atau
tindakan seorang individu.
Pola-pola perilaku setiap manusia secara individual sebenarnya unik dan
berbeda satu sama lainnya. Perilaku manusia ditentukan oleh naluri, dorongan-dorongan, refleks-refleks atau
kelakuan manusia yang tidak lagi dipengaruhi dan ditentukan oleh akal dan
jiwanya seperti tindakan yang membabi buta.
Unsure-unsur akal dan jiwa yang menentukan perbedaan perilaku tiap-tiap individu itu disebut juga susunan kepribadian, yang meliputi hal-hal dibawah ini.
Unsure-unsur akal dan jiwa yang menentukan perbedaan perilaku tiap-tiap individu itu disebut juga susunan kepribadian, yang meliputi hal-hal dibawah ini.
Pengetahuan individu
terisi dengan fantasi, pemahaman dan konsep yang lahir dan pengamatan dan pendalaman mengenai
bermacam-macam hal yang berbeda dalam lingkungan individu tersebut. Semuah itu
direkam dalam otak dan sedikit demi sedikit diungkapkan oleh individu tersebut
dalam bentuk perilaku.
Perasaan adalah suatu
keadaan dalam kesadaran manusia yang menghasilkan penilaian positif atau
negative terhadap sesuatu. Bentuk penilaian dipengaruhi oleh pengetahuannya.
Oleh karena itu,perasaan selalu bersifat subjektif karena adanya unsure
penilaian tadi,yang bisa jadi berbeda dengan yang lain. Perasaan mengisi penuh
kesadaran manusia tiap saat dalam hidupnya.
Dorongan naluri adalah
kemauan yang merupakan naluri pada setiap manusia. Sedikitnya ada tujuh macam
dorongan naluri, yaitu:
·
Dorongan untuk mempertahankan hidup.
·
Dorongan seksual.
·
Dorongan untuk mencari makan.
·
Dorongan untuk bergaul dan berinteraksi dengan sesame manusia.
·
Dorongan untuk meniru tingkah laku sesamanya.
·
Dorongan untuk berbakti.
·
Dorongan akan keindahan bentuk, warna, suara, dan gerak.
c. Faktor-faktor pembentuk kepribadian
Kepribadian terbentuk, berkembang, dan berubah seiring dengan proses sosialisasi yang dipengaruhi oleh factor-faktor sebagai berikut:
Kepribadian terbentuk, berkembang, dan berubah seiring dengan proses sosialisasi yang dipengaruhi oleh factor-faktor sebagai berikut:
a. Faktor biologis
Semua manusia yang normal dan sehat memiliki persamaan biologis tertentu, seperti memiliki dua
tangan, panca indera, kelenjar seksual, dan otak yang rumit. Persamaan biologis ini membantu menjelaskan beberapa
persamaan dalam kepribadian dan perilaku semuah orang. Setiap warisan biologis
selalu bersifat unik. Hal yang lain yang juga mempengaruhi kepribadian adalah
kematangan biologis. Tidak semuah factor karakteristik fisik menggambarkan
kepribadian seseorang. Misalnya, orang gemuk adalah orang periang, orang yang keningnya lebar adalah orang cerdas, dan orang dengan rahang
lebar mempunyai kepribadian kuat.
b. Faktor geografis (lingkungan fisik)
Orang-orang aborigin
harus berjuang lebih gigih untuk dapat bertahan hidup, sementara bangsa Samoa
hanya memerlukan sedikit waktu untuk mendapatkan makanan yang akan dimakan
sehari-hari karena alamnya lebih subur. Beberapa suku bangsa di Uganda
mengalami kelaparan berkepanjangan karena lingkungan alam tempat mereka mencari
nafkah telah banyak yang rusak. Mereka menjadi orang-orang yang tamak dan
rakus. Perkelahian antara mereka sering terjadi karena memperebutkan makanan
untuk sekedar mempertahankan hidup.
c. Faktor kebudayaan khusus
Perbedaan kebudayaan
dalam setiap masyarakat dapat mempengaruhi kepribadian seseorang. Meskipun
demikian, para sosiolog menyarankan untuk tidak terlalu memperbesar-besarkan masalah
ini. Misalnya, kebudayaan petani, kebudayaan kota, dan kebudayaan industry tentu memperlihatkan corak kepribadian yang
berbeda-beda. memang terdapat karakteristik kepribadian umum dari suatu masyarakat.
Namun, tidak berarti bahwa semuah anggota termasuk didalamnya. Sejalan dengan itu, ketika membahas
kepribadian umum bangsa-bangsa, suku bangsa, kelas social, dan kelompok-kelompok berdasarkan pekerjaan, daerah, maupun kelompok social lainnya.
d. Faktor pengalaman kelompok
Anggota kelompok yang
lain cukup penting perannya bagi individu dalam mengembangkan kepribadian yang
positif. Kelompok yang berpengaruh dalam perkembangan kepribadian seorang dibedakan menjadi dua:
1. Kelompok acuan (kelompok referensi)
Sepanjang hidup seseorang, kelompok-kelompok tertentu di jadikan model yang penting bagi gagasan atau norma-norma perilaku. Mula-mula kelompok keluarga adalah kelompok yang dimiliki bayi selama masa-masa yang paling peka. Pembentukan kepribadian seseorang sangat ditentukan oleh pola hubungan dengan tahun-tahun pertama. Selain keluarga, kelompok referensi yang lain adalah teman-teman sebaya yang sama usia dan statusnya.
Sepanjang hidup seseorang, kelompok-kelompok tertentu di jadikan model yang penting bagi gagasan atau norma-norma perilaku. Mula-mula kelompok keluarga adalah kelompok yang dimiliki bayi selama masa-masa yang paling peka. Pembentukan kepribadian seseorang sangat ditentukan oleh pola hubungan dengan tahun-tahun pertama. Selain keluarga, kelompok referensi yang lain adalah teman-teman sebaya yang sama usia dan statusnya.
2. Kelompok majemuk
Kelompok majemuk menunjuk pada kenyataan masyarakat yang lebih beraneka ragam. Bermacam-macam kelompok ini memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang aneka nilai dan norma dalam masyarakat. Suatu norma yang dianggap penting oleh satu kelompok masyarakat dapat saja dianggap tidak perlu oleh anggota masyarakat lainnya.
Kelompok majemuk menunjuk pada kenyataan masyarakat yang lebih beraneka ragam. Bermacam-macam kelompok ini memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang aneka nilai dan norma dalam masyarakat. Suatu norma yang dianggap penting oleh satu kelompok masyarakat dapat saja dianggap tidak perlu oleh anggota masyarakat lainnya.
e. Faktor pengalaman unik
Pada lingkungan
keluarga yang sama, tidak ada individu yang memiliki kepribadian yang sama, karena meskipun berada
dalam satu keluarga tidak mendapatkan pengalaman yang sama. Begitu juga dengan
pengalaman yang dialami oleh seseorang yang lahir kembali, tidak akan selalu sama.
Arti dan pengaruh suatu pengalaman tergantung pada pengalaman-pengalaman yang mendahuluinya.
Pengalaman-pengalaman yang unik akan mempengaruhi kepribadian seseorang.
Kepribadian berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya karena pengalaman yang
dialami seseorang itu unik dan tidak ada satu orang pun yang dapat menyamainya.
BAB
III
PENUTUP
PENUTUP
A. Kesimpulan
Secara sederhana
sosialisasi dapat diartikan sebagai sebuah proses seumur hidup yang berkenaan
dengan bagaimana individu mempelajari cara-cara hidup serta norma dan nilai
sosial yang terdapat dalam kelompoknya agar dapat berkembang menjadi pribadi
yang dapat diterima oleh kelompoknya
Berikut Tahap-tahap
dalam bersosialisasi :
a. Tahap persiapan (preparatory stage)
b. Tahap meniru (play stage)
c. Tahap siap bertindak (game stage)
d. Tahap penerimaan norma kolektif (generalized stage)
Setiap individu
memiliki kepribadian melalui sosialisasi sejak dilahirkan. Kepribadian Menunjuk
pada pengaturan sikap-sikap sesorang yang berbuat, berfikir, dan merasakan,
khusunya apabila dia berhubungan dengan orang lain atau menanggapi satu
keadaan. Kepribadian mencakup kebiasaan, sikap, sifat yang dimiliki seseorang
yang berkembang apabila seseorang berhubungan dengan orang lain.
Pola-pola perilaku
setiap manusia secara individual sebenarnya unik dan berbeda satu sama lainnya.
Perilaku manusia ditentukan oleh naluri, dorongan-dorongan, refleks-refleks
atau kelakuan manusia yang tidak lagi dipengaruhi dan ditentukan oleh akal dan
jiwanya seperti tindakan yang membabi buta.
Unsure-unsur akal dan jiwa yang menentukan perbedaan perilaku tiap-tiap individu itu disebut juga susunan kepribadian, yang meliputi hal-hal dibawah ini.
Unsure-unsur akal dan jiwa yang menentukan perbedaan perilaku tiap-tiap individu itu disebut juga susunan kepribadian, yang meliputi hal-hal dibawah ini.
a. Pengetahuan
b. Perasaan
c. Dorongan naluri
B.
Kritik dan Saran
Demikianlah
makalah tentang “Sosialisasi Dan Pembentukan Kepribadian” yang telah kami paparkan. Kami menyadari makalah ini jauh dari
sempurna maka dari itu kritik yang membangun dari pembaca sangat kami harapkan
untuk perbaikan. Harapan kami, semoga makalah ini dapat memberi pengetahuan
baru dan bermanfaat bagi kita semua.
DAFTAR PUSTAKA
Muin idianto. 2006. Sosiologi SMA/MA jilid 1 untuk kelas X. jl.H. Baping Raya No.100 Ciracas, jakarta 13740, Penerbit Erlangga.
Ali nur, S. Pd, ktsp. 2006. Sosiologi SMA-MA/X/semester genap. Jawa Timur. tim penulis modul sosiologi.
Setiadi, elly M., Kolip, Usman. (2010)”pengantar sosiologi”.jakarta:kencana.
Setiadi, elly M., Kolip, Usman. (2010)”pengantar sosiologi”.jakarta:kencana.
Tim Sosiologi. 2007. Sosiologi SMA
kelas X (cet-3). Jakarta: Yudhistira
Fritz, Damanik. 2006. Seribupena
Sosiologi untuk SMA Kelas X. Jakarta: Erlangga.
Kun Maryati. 2004. Sosiologi SMA Kelas
X. Jakarta: Esis.
Uno B. Hamzah. 2009. Teori Motivasi &
Pengukurannya. Jakarta: Bumi Aksara. Wursanto. 2003. Etika Komunikasi.
Yogyakarta: Kansius. Yani. 2009. Interaksi Sosial. Yogyakarta. Bumi Aksara

Tidak ada komentar:
Posting Komentar